Rabu, 17 Juli 2013

Sastra Parwa Pertentangan Antara Baik dan Buruk


        Kasusastran Jawa Kuna dibagi dalam 2 bentuk kasusastran yaitu yang berbentuk prosa disebut sastra Parwa, dan yang berwujud puisi disebut sastra Kakawin.
Salah satu sastra jawa yang paling dikenal di jawa adalah Sastra Parwa yang merupakan adaptasi dari epos – epos berbahasa sansekerta.
Jenis sastra jawa yang paling tua adalah Ramayana kakawin dan kitab – kitab parwa. Meskipun kisah Ramayana dan Mahabarata berasal dari India, tetapi isi yang diambil oleh masyarakat jawa adalah pada pertentangan antara yang baik dan buruk atau yang berakhir dengan kemenangan yang baik. sastra yang dipengaruhi India itu mendominasi sastra jawa dalam waktu yang cukup lama.
       Sastra Parwa yang dihasilkan pada masa Jawa Kuna kebanyakan merupakan gubahan atau saduran dari parwa - parwa Mahabharata versi Sansekerta yang digubah dalam bahasa Jawa Kuna.
Dalam buku Kalangwan karya Zoetmulder, dengan bahasanya yang indah dan menarik, para pembaca diajak untuk melihat sastra jawa secara menyeluruh.
Ada beberapa contoh Apabila dalam Mahabharata versi Sansekerta kita temui ada 1 Kasusastran Jawa Kuna dibagi dalam 2 bentuk kasusastran yaitu yang berbentuk prosa disebut sastra Parwa, dan yang berwujud puisi disebut sastra Kakawin.
        

       Salah satu sastra jawa yang paling dikenal di jawa adalah Sastra Parwa yang merupakan adaptasi dari epos – epos berbahasa sansekerta.
Jenis sastra jawa yang paling tua adalah Ramayana kakawin dan kitab – kitab parwa. Meskipun kisah Ramayana dan Mahabarata berasal dari India, tetapi isi yang diambil oleh masyarakat jawa adalah pada pertentangan antara yang baik dan buruk atau yang berakhir dengan kemenangan yang baik. sastra yang dipengaruhi India itu mendominasi sastra jawa dalam waktu yang cukup lama.
Sastra Parwa yang dihasilkan pada masa Jawa Kuna kebanyakan merupakan gubahan atau saduran dari parwa - parwa Mahabharata versi Sansekerta yang digubah dalam bahasa Jawa Kuna.
Dalam buku Kalangwan karya Zoetmulder, dengan bahasanya yang indah dan menarik, para pembaca diajak untuk melihat sastra jawa secara menyeluruh.
Ada beberapa contoh Apabila dalam Mahabharata versi Sansekerta kita temui ada 18 Parwa, maka pada masa Jawa Kuna hanya ada 8 Parwa Mahabharata yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati ke - 8 Parwa. antara lain Adiparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramaparwa, Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.
Adiparwa, Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
Wirataparwa, menceritakan kisah kehidupan para Pandawa di istana Wirata.
Udyogaparwa, menceritakan kisah persiapan perang Bharata, masing - masing pihak mencari sekutu.
Bhismaparwa, menceritakan kisah hari pertama perang Bharata di Kuruksetra, dengan Bhisma sebagai panglima perang dari pihak Korawa.
Asramaparwa, menceritakan kisah Dhrstrarastra yang meratapi nasib karena tewasnya seluruh Korawa dalam perang Bharata.
Mosalaparwa, menceritakan kisah musnahnya bangsa Yadu oleh kutukan seorang Rsi yang telah dipermalukan oleh Samba putra Kresna.
Prasthanikaparwa , menceritakan kisah perjalanan spiritual para Pandawa, menyepi ke tengah Hutan dan meninggalkan istana.
Swargarohanaparwa, menceritakan kisah para Pandhawa yang dimasukkan ke dalam neraka, dan akhirnya masuk surga.
Bagaimana dalam setiap parwa selalu mengandung arti kehidupan yang lebih. Seperti dalam Swargarohanaparwa bagaimana para dewa menjelaskan bahwa mengapa pandawa di neraka sebelum di surga. Begitu juga sebaliknya kurawa di surga sebelum di neraka, itu semua dilakukan akibat dari sekelumit amalan mereka atau ganjaran didunia yang harus ditebus di akherat..
Arti kehidupan yang seperti di atas juga dapat ditemui dalam parwa -  parwa yang lain. Seperti dalam Asramaparwa bagaimana rasa cinta dan hormat Pandawa. Lalu dalam Prasthanikaparwa  kematian Pandawa dan Dropadi dengan yoga pemusnahan karena mereka berlaku kurang baik.
Dimana dalam setiap Parwa Mengandung pesan moral bagi masyarakat Jawa pada masa itu. Yang mana orang Jawa sangat terpengaruh terhadap kemunculan karya sastra Parwa ini. Salah satunya dapat dilihat dari cara mereka memberikan nama pada anak mereka. Nama yang dalam Sastra Parwa menjadi orang baik atau seorang yang heroik.
8 Parwa, maka pada masa Jawa Kuna hanya ada 8 Parwa Mahabharata yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati ke - 8 Parwa. antara lain Adiparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramaparwa, Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.
Adiparwa, Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
Wirataparwa, menceritakan kisah kehidupan para Pandawa di istana Wirata.
Udyogaparwa, menceritakan kisah persiapan perang Bharata, masing - masing pihak mencari sekutu.
Bhismaparwa, menceritakan kisah hari pertama perang Bharata di Kuruksetra, dengan Bhisma sebagai panglima perang dari pihak Korawa.
Asramaparwa, menceritakan kisah Dhrstrarastra yang meratapi nasib karena tewasnya seluruh Korawa dalam perang Bharata.
Mosalaparwa, menceritakan kisah musnahnya bangsa Yadu oleh kutukan seorang Rsi yang telah dipermalukan oleh Samba putra Kresna.
Prasthanikaparwa , menceritakan kisah perjalanan spiritual para Pandawa, menyepi ke tengah Hutan dan meninggalkan istana.
Swargarohanaparwa, menceritakan kisah para Pandhawa yang dimasukkan ke dalam neraka, dan akhirnya masuk surga.
Bagaimana dalam setiap parwa selalu mengandung arti kehidupan yang lebih. Seperti dalam Swargarohanaparwa bagaimana para dewa menjelaskan bahwa mengapa pandawa di neraka sebelum di surga. Begitu juga sebaliknya kurawa di surga sebelum di neraka, itu semua dilakukan akibat dari sekelumit amalan mereka atau ganjaran didunia yang harus ditebus di akherat..
Arti kehidupan yang seperti di atas juga dapat ditemui dalam parwa -  parwa yang lain. Seperti dalam Asramaparwa bagaimana rasa cinta dan hormat Pandawa. Lalu dalam Prasthanikaparwa  kematian Pandawa dan Dropadi dengan yoga pemusnahan karena mereka berlaku kurang baik.
Dimana dalam setiap Parwa Mengandung pesan moral bagi masyarakat Jawa pada masa itu. Yang mana orang Jawa sangat terpengaruh terhadap kemunculan karya sastra Parwa ini. Salah satunya dapat dilihat dari cara mereka memberikan nama pada anak mereka. Nama yang dalam Sastra Parwa menjadi orang baik atau seorang yang heroik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar