Rabu, 01 Agustus 2012

Analisis Struktural Geguritan Sudi Yatmana


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Pengarang
       Pecinta Budaya Jawa dengan nama Dr. RMA Rama Sudi Yatmana. Seorang guru di jagad kasusastran Jawa. Rama Sudiyatmana lahir di Surakarta pada hari Minggu Pahing tanggal 28 Maret 1937 pukul 11.11 WIB. Ia lahir ditengah keluarga sederhana dari pasangan Bapak Soekiman Tjiptasudirdja dan Ibu Soedinem. Ayahnya bekerja sebagai Kepala SD Banaran Pracimantara, sedangkan ibunya seorang Graad V Mangkunegara II. Rama Sudiyatmana adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ia memiliki seorang kakak bernama Sri Koesmarjiati dan tiga orang adik bernama Widada, Dwi Djatmi dan Sri Rahayu.


        Rama Sudiyatmana sekarang ini tinggal di Jl. Kaliwiru V no.5 Semarang bersama seorang istri bernama MA Kasmonah. Mereka dikaruniani delapan orang anak dan delapan orang cucu.

B.     Proses Kreatif Pengarang
        Perjalanan karir dari seorang Rama Sudiyatmana tidaklah singkat. Beliau pernah mengikuti pendidikan di BI Bahasa Jawa Yogyakarta tahun 1959, BI Bahasa Indonesia Semarang tahun 1962, Institut Pendidikan Guru Madiun tahun 1964 dan pernah pula mengikuti pendidikan di Soon Study Courses Australia pada tahun 1975 – 1982.
        Setelah menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang guru, Rama Sudiyatmana mulai terjun ke dunia kerja yaitu dengan menjadi guru di berbagai lembaga pendidikan pada tahun 1959-1989. Tidak hanya itu beliau juga menjadi dosen luar biasa di FPBS IKIP Semarang pada tahun 1986-1998, menjadi Kasi Bina Program Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Provinsi Jateng tahun 1989-1993, Pengawas Dikmenum tahun 1993-1997 dan yang terakhir beliau pernah bekerja sebagai Dosen STIEPARI Semarang pada tahun 1996 – 2001.

C.    Karya - karyannya
Dua belas buku kumpulan geguritan tulisan sastarawan Sudi Yatmana yang telah diterbitkan sebagai berikut.

   1.      Layang Marang Panjenengan
   2.      Layang Saka Alam Kalanggengan
   3.      Saka Simpang Lima Semarang Ngliwati Harbour Bridge Sydney Menyang Simpang Pitu Kudus
   4.      Layang Menyang Swarga
   5.      Geguritan Alam Sawegung
   6.      Geguritan Wong Pangsiyunan
   7.      Geguritan SIBERBERBERBER
   8.      Sesenggolan Karo Ggeguritan
   9.      Geguritan NUT ING JAMAN KALAKONE
   10.  Geguritan Bececeran
   11.  Carita Ginurit Sajimpit
   12.  Geguritanku Buntut Enem Cucuk Pitu

D. Kiprah Pengarang 
        Selama 73 tahun, banyak pengalaman yang didapat oleh Sudi Yatmana. Pengalaman – pengalaman tersebut antara lain mengajar di 21 lembaga pendidikan, Mengasuh Radio Atmajaya atau Pasopati Semarang pada tahun 1967 hingga 1996. Beliau juga ikut menyiapkan Kurikulum Bahasa Jawa pada tahun 1968, 1975, 1984, Bappeda 1988 Muatan Lokal 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
        Semua pengalaman yang didapat Rama Sudiyatmana membuatnya selalu dipercaya untuk terlibat dalam beberapa organisasi seperti menjadi Ketua Dewan Pakar ”Komite Independen Penyelamat Pembangunan (KIPP)” yang diketuai HM. Ismail,  Penasihat ”Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)”  Provinsi Jawa Tengah yang diketuai DR. Ir. Sri Murni Ardiningsasi, M.Sc, Anggota Dewan Pakar ”Komite Basa Jawi Pusat Surakarta” yang diketuai KRHT. H.Wijoyodipuro,  dan Penasihat ”Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi)”  Provinsi Jawa Tengah yang diketuai Drs. H. Sutadi hingga sekarang.  
        Dalam Jagad Susastra Jawa, Beliau telah menghasilkan karya sebanyak 350 judul buku yang sudah diterbitkan oleh 18 penerbit dan dimuat dalam 25 media cetak. Salah satu kumpulan karya Rama Sudi Yatmana adalah “Guritan – guritane Rama Sudiyatmana unik langka” yang dianalisa oleh penulis pada kesempatan kali ini.
        Karya – karyanya tersebut mengantarkan Beliau untuk menerima berbagai perhargaan dari berbagai bidang. Penghargaan tersebut antara lain
  1. Lancana Karya Satya dari Presiden RI sebagai abdi negara / guru 25 tahun lebih (1988)
  2. Budaya Bakti Upapradana dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jateng sebagai pembina dan pengembang bahasa dan sastra Jawa (16 Agustus 1991)
  3. Doktor Bahasa Jawa dari The London Institute for Applied Research, Inggris (30 Juni 1992)
  4. Piagam Bhakti Budaya dari Pusat Lembaga Kabudayan Jawi Surakarta (21 Oktober 1993)
  5. KRT Yatmadiningrat Keraton Surakarta Hadiningrat (12 Desember 1996)
  6. Rekor MURI, Penyelenggara Perhelatan Pernikahan dengan 15 pembawa acara (Januari 1997)
  7. KRMT Sudi Yatmana Pura Mangkunegaran Surakarta (7 Februari 1999)
  8. Rekor MURI, Penulis Aksara Jawa Terbesar, The Biggest Javanese Letters in the World (Juli 2002)
  9. Pemenang Hadiah Sastra Rancage atas jasanya mengembangkan bahasa dan sastra Jawa dari Yayasan Kebudayaan Rancage (Ketua Ajip Rosidi) Osaka (31 Januari 2002)
  10. Rekor MURI Kolektor Kartu Nama ; Kolektor Kata-Kata Mutiara (Juli 2003)
  11. Rekor MURI, Penyelenggara Perhelatan Pernikahan dengan 45 pembawa acara dan Penembrama Tersingkat (22 Mei 2005)


        Kiprah Rama Sudi Yatmana terbukti pula dengan berbagai pengalaman serta prestasi yang beliau dapatkan. Selain pengalaman yang telah tertera di atas, masih ada beberapa pengalaman lain yang beliau dapatnya yaitu:
  1. Sejak 1984 dwija Permadani, anggota dewan pakar pengurus Permadani pusat (Ketua Mulyadi Purwa Atmaja dan HE Suprapto)
  2. Dalam tahun 1996 studi banding di Melbourne, Canberra, dan Sydney Australia
  3. Sejak 1997 warga Sanggar Seni Paramesthi Semarang (Ketua Trontong Sadewa, SH)
  4. Sejak 18 April 1998 Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila, Penyelenggara AUB/ STIE AUB Surakarta
  5. Sejak 25 Februari 1999 anggota dewan redaksi tabloid Inspirator (Suara Merdeka Group)
  6. Sejak 10 April 1999 anggota presidium Pusat Lembaga Kabudayan Jawi Surakarta
  7. Sejak 18 Mei 1999 Ketua Paguyuban Manusia Ranah Semesta (Pamarta) Semarang
  8. Sejak 9 Oktober 2000 Ketua Tim Peneliti dan Penilai Buku-buku Bahasa Jawa dan Buku-buku Budi Pekerti Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Tengah
  9. Akhir Mei Awal Juni 2005 mengikuti Seminar Internasional Bahasa Jawa di Paramaribo Suriname
  10. Tahun 1991, 1996, 2001, 2006 pemakalah, panitia, moderator, pengarah Kongres Bahasa Jawa I, II, III, IV






BAB II
LANDASAN TEORITIS

A.    Analisis strukturalisme dan analisis semiotik
Strukturalisme pada dasarnya merupakan cara berfikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur diatas. Kodrat tiap unsur dalam struktur tidak mempunyai makna dengan sendirinya, melainkan maknanya ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsure lain yang terkanung dalam struktur itu (Hawkes, 1978:17_18).
Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks, untuk memahaminya harus dianalisis (Hill, 1966:6). Menurut T.S. Eliot, bahwa bila kritikus terlalu memecah-mecah sajak dan tidak mengambil sikap yang dimaksudkan penyairnya (yaitu sarana-sarana kepuitisan itu dimaksudkan untuk mendapatkan jaringan efek puitis), maka kritikus cenderung mengosongkan arti sajak. Antara unsur-unsur struktur sajak ada koherensi atau atau pertauan erat; unsure-unsur itu tidak otonom, melainkan merupakan bagian dari situasi yang rumit dan dari hubungannya dengan bagian lain, unsure-unsur itu tidak mendapat artinya (Culler, 1977:170-1).
         Semiotik adalah ilmu pengetahuan tentang tanda (Abrams 1981:170). Teori Strukturalisme – semiotik merupakan penggabungan dua teori yaitu strukturalisme dan semiotik.
       Culler dalam (Ratna 2009:97) mengatakan bahwa structural dan semiotik merupakan dua teori yang identik, strukturalisme memusatkan perhatian pada karya, sedangkan semiotic memusatkan perhatian pada tanda (semion).
      
B.     Rima
        Rima adalah pengulangan bunyi dalam satu baris atau larik puisi, pada akhir baris puisi bahkan juga pada keseluruhan baris dan bait puisi. Rima meliputi onomatope (tiruan – tiruan terhadap bunyi – bunyi), bentuk intern pola bunyi (meliputi aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berulang dan sajak penuh), intonasi, repetisi bunyi / kata dan persamaan bunyi (Jabrohim, dkk. 2003:54).
        Menurut Baribin (1990:43) Rima adalah bunyi yang sama, yang berulang – ulang yang ditemukan dalam puisi. Menurut tempatnya dalam puisi, rima dibedakan menjadi rima awal, rima tengah dan rima akhir.
        Sependapat dengan Baribin, Suharianto (2005:47-49) berpendapat bahwa menurut jenisnya rima dibedakan atas:
1.      Berdasarkan Bunyinya
a)        Asonansi     : Rima yang disebabkan oleh adanya unsur vokal yang sama.
b)        Alitrasi        : Rima yang disebabkan oleh adanya unsur konsonan yang sama.
2.      Berdasarkan letaknya dalam kata
a)        Rima Mutlak           : Persamaan bunyi vokal dan konsonan.
b)        Rima Sempurna      : Salah satu suku katanya sama.
c)        Rima tak Sempurna : Salah satu dari suku kata hanya vokal atau konsonan yang sama.
3.      Berdasarkan letaknya dalam baris
a)        Rima awal               : Persamaan bunyi yang terjadi diawal baris.
b)        Rima tengah            : Persamaan bunyi yang terjadi di tengah baris.
c)        Rima akhir              : Persamaan bunyi yang terjadi di akhir baris.
d)       Rima horizontal      : Persamaan bunyi yang terdapat pada baris yang sama.
e)        Rima vertical           : Persamaan bunyi yang terdapat pada baris yang berlawanan.

C.    Diksi
        Terdapat dua unsur utama yang perlu diperhatikan dalam diksi. Pertama, diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Kedua, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata bahasa itu (Keraf dalam Jabrohim, dkk. 2003:35)
          Menurut Barfiel dalam Pradopo (1987: 54) diksi di dalam puisi merupakan (1) kemampuan memilih kata, dan (2) kemampuan menyusun kata-kata yang dapat menimbulkan imajinasi estetik. Diksi yang memiliki keindahan estetik seperti itu disebut diksi puisi. 


D.    Majas
        Ada tujuh macam bahasa figuratif (majas) berdasarkan pendapat Pradopo (2002:61): yaitu perbandingan, metafora, metonimia, sinekdot, simile, personifikasi dan pleonasme. Namun hanya personifikasi yang akan dianalisis penulis. Personifikasi adalah Menggambarkan benda-benda mati/barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.


E.     Parafrase
         Parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut.
Macam-macam parafrase :
1.      Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.
2.      Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.

F.     Makna konotatif dan denotatif
         Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
Contoh :
- Para petugas gabungan merazia kupu-kupu malam tadi malam
   (kupu-kupu malam =   wts)
- Bu Marcella sangat sedih karena terjerat hutang lintah darat
  (lintah darat = rentenir)
        Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.
Contoh :
- Mas parto membeli susu sapi
- Dokter bedah itu sering berpartisipasi dalam sunatan masal

G.    Kata arkais
         Kata arkais sama dengan kuna, tidak lazim didengar. Arkais dari bahasa Yunani, artinya adalah: "dari sebuah masa yang lebih awal dan tidak dipakai lagi atau sesuatu hal yang memiliki ciri khas kuna atau antik." Sesuatu hal dalam ilmu bahasa yang sudah lama dan tidak digunakan lagi seringkali disebut sebagai "arkaisme".

H.    Kata asing
Kata dari bahasa asing. Kata yang berasal bukan dari bahasa jawa .

I.       Tipografi
         Merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.
         Bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.     

J.      Pesan/amanat
         Waluyo (2000:130) berpendapat bahwa amanat merupakan apa yang tersirat dibalik kata-kata yang disusun dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan. Amanat adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya (Jabrohim 2001:67).



BAB III
HASIL PENELITIAN
A.      Puisi 1
1.    Rima
Puisi 1 dengan judul Tawangmangu mempunyai Aliterasi yaitu pada
-           pertama baris ke-2, ke-3, dan ke-5.
Anggalur nalusur ngliwati palur
                        Jati wis ngaweawe
Ambabar karanganyar
-          bait kedua baris ke-1 dan ke-2.
Karangpandhan durung rampung anggone dandan
Matesih kawelas asih
-          bait ketiga baris ke-1 dan ke-2.
   Kasengsem ndeleng lengkehlengkehing
Pasawahan lan pategalan
-          bait kelima baris ke-2
Tawanging pangangenangen
-          bait keenam baris ke-2
            Mangumanguning lelakon
Pada puisi 1 juga terdapat banyak asonansi yaitu pada
-          bait pertama baris ke-1, ke-2, ke-5
Oncat saka bengawan sala
Anggalur nalusur ngliwati palur
Ambabar karanganyar
-          bait kedua baris ke-1, ke-2, dan ke-3
Karangpandhan durung rampung anggone dandan
Matesih kawelas asih
Ngasihasih tekan pablengan
-          bait ketiga baris ke-1 dan ke-2
Kasengsem ndeleng lengkehlengkehing
Pasawahan lan pategalan
-          bait kedelapan
Tawange mangune dadi kanyatan manut jamane
 Pada puisi terdapat rima mutlak yaitu pada
-          bait pertama baris ke-3
Jati wis ngaweawe     
-          bait kedua baris ke-3
Ngasihasih tekan pablengan
-          Bait ketiga baris ke-1
Kasengsem ndeleng lengkehlengkehing
-          Bait keempat baris ke-1 dan ke-2
Grojogan sewu angantuantu
Uga kembangkembang tetanduran lan kamarmu
-          Bait kelima baris ke-2
Tawanging pangangenangen
-          Bait keenam baris ke-2
Mangumanguning lelakon
Puisi 1 juga mempunyai rima sempurna yaitu pada
-          Bait pertama baris ke-1 dan ke-2
Oncat saka bengawan sala
Anggalur nalusur ngliwati palur
-          Bait kedua baris ke-7 dan ke-8
Karangpandhan durung rampung anggone dandan
Matesih kawelas asih
Puisi juga terdapat rima tak sempurna yaitu pada
-          Bait ke-1 baris ke-1dan ke-3
Oncat saka bengawan sala
Ambabar karanganyar
-          Bait ke-2 baris ke-1
Karangpandhan durung rampung anggone dandan
-          Bait ke-3 baris ke-1 dan ke-2
Kasengsem ndeleng lengkehlengkehing
Pasawahan lan pategalan
-          Bait ke-4 baris ke-1
Grojogan sewu angantuantu

 
2.    Diksi
        Dalam geguritan berjudul Tawangmangu ini pengarang memilih berbagai nama tempat menuju Tawangmagu, seperti bengawan sala, palur, jati, tasikmadu, karanganyar, karangpandhan, matesih, dan pablengan. Jika pembaca tidak tahu nama tempat tersebut pasti akan menemui kesulitan dalam memahami puisi ini. Dalam puisi ini masih banyak kata – kata yang jarang digunakan seperti oncat, tumengkebing,dan  angantuantu.

3.    Majas
Personifikasi pada bait ke-1 baris ke-3 yaitu jati  wis ngaweawe. Pada bait ke-2 baris ke-1 dan ke-2
Karangpandhan durung rampung anggone dandan
Matesih kawelas asih
4.    Parafrase
        Dalam geguritan ini menceritakan tentang perjalanan menuju Tawangmangu. Ketika akan menuju Tawangmangu, kita akan melewati beberapa tempat dan suasananya. Yang pertama dimulai dari Sungai bengawan sala, Palur, Jati, Tasikmadu, karanganyarm, sampai pablengan. Dimana penulis juga menggambarkan suasana dan perasaannya ketika melewati kota – kota tersebut.    
        Ketika perjalanan menuju Tawangmangu juga banyak dihiasi persawahan dan perkebunan.   
        Penyair juga menggambarkan Tawangmangu sebagai angan – angan. Dimana angan – angan atau harapan bisa tercapai tergantung yang orang yang melakukannya.     

5.      Kata Arkhais
Oncat                           = pergi dari
Tumengkebing             = tertutup       
Angantuantu               = menanti- nanti

6.      Tipografi
Hampir sama dengan puisi pada umumnya. Letak dimulai dari kiri. Dan pada bait terakhir hanya ada satu baris menunjukan kesimpulan dari puisi tersebut.

7.      Pesan / amanat
a.    Jika mempunyai keinginan kita harus yakin keinginan itu akan tercapai.
b.    Keinginan harus dilakukan jangan hanya dipirkirkan

B.       Puisi 2
1.    Rima
Pada puisi 2 rima asonansi yaitu pada bait pertama baris ke-4
            Ora mencret sebel bebel
Pada puisi 2 terdapat rima sempurna pada bait pertama baris ke-4
Ora mencret sebel bebel
Pada puisi terdapat rima vertical akhir
-          pada bait kedua baris ke-1 dan ke-2
Apa ana kang     luwih     wigati
Dene wektune lancer ngetrepi
-          pada bait kedua baris ke-3, ke-4, ke-5
Kalis ngganggu kerja
Bisa nendra
Lega

2.    Diksi
Dalam geguritan berjudul lega ini penyair memilih kata yang umum digunakan karena sesuai dengan judulnya. Bahkan untuk mengungkapkan rasa lega penyair menggunakan kata mencret dan ngising untuk benar – benar menggambarkan rasa lega.

3.    Parafrase
Dalam geguritan ini menceritakan kelegaan. Penyair menggambarkan perasaan lega. lega yang seperti apa digambarkan penyair disini.tidak ada yang lebih penting dara perasaan lega. tidur bisa nyenyak dll.

4.    Tipografi
Dalam geguritan ini bentuk kiri rata seperti pada umumnya. Tapi sebelah kanan mengkerucut pada alinea pertama baris ke-5 yaitu padhang jagad iki. Berarti bahwa penekanan yang lebih dalam makna rasa lega. Rasa lega seperti melihat jagad atau dunia dalam keadaan terang.
5.    Pesan / amanat
a.    Rasa lega adalah rasa tanpa ada beban sama sekali.
b.    Tidak ada yang lebih penting dari rasa lega.
c.    Perasaan lega akan membuat tidur kita nyenyak. Karena jaman sekarang susah untuk tidur nyenyak seiring semakin kompleks masalah saat ini.

C.    Puisi 3
1.      Rima
Pada puisi 3 terdapat aliterasi, konsonan /j/ pada bait ke-3 baris ke-4. Pada puisi 3 terdapat asonansi yaitu vocal /a/ pada bait ke-3 baris ke-4. Pada puisi 3 terdapat banyak sekali rima vertical dan rima awal karena setiap bait selalu di ulang seperti pada bait ke-1 baris ke-2 dan ke-3 yaitu
Apa kowe omong wedi
Apa kowe omong bab wedi
Contoh seperti diatas juga teerdapat pada bait yang lain.
2.      Diksi
        Dalam geguritan berjudul omong wedi lan wedi omong, penyair memilih kata yang umum digunakan. Namun, uniknya banyak kata yang selalu di ulang – ulang dan ditukar tempat. Kata yang diulang – ulang ini mengandung arti penegasan seperti pada aja aja aja  dan omong omong-a o-mong-a.
3.      Parafrase
        Dalam geguritan omong wedi lan wedi omong menceritakan orang takut dan takut bicara(berpendapat). Bahwa jangan jadi orang yang penakut dan jangan pernah bilang takut. Jadilah orang yang berani berbicara(berpendapat).

4.      Tipografi
        Penulisan rata tepi kiri sama pada umumnya. Namun kata aja ada yang diletakan sendirian dan diulang tiga kali menjelaskan penekanan pelarangan. Dan penulisan omonga omong-a o-mong-a ini juga menjelaskan penekanan baik segi pengucapan atau pemaknaan.
5.      Pesan / amanat
a.       Jadilah orang yang pemberani.
b.      Jangan pernah takut untuk mengeluarkan pendapat.

D.    Puisi 4

1.      Rima
Dalam puisi 4 terdapat aliterasi pada bait ke-4 baris ke-5 dan baris ke-6
Kabeh golek cara golek makna
Kang sambungsinambung lan kang pinuju angel
Pada  puisi 4 terdapat asonansi pada
-       Bait ke-1 baris ke-1, ke-2, ke-3, ke-5, dan ke-6

Endi sing luwih dhisik
Teknologi informasi apa informasi teknologi
Informasi teknologi apa tekologi informasi
Teknologi apa informasi
Informasi apa teknologi

-       Bait ke-2 baris ke-3
Caracaraning cara babagan apa

-       Bait ke-4 baris ke-2, ke-3, dan ke-4
Iya cara iya makna
Percumah ana carane ora ana maknane
Arep apa ana makna ora ana cara
-       Bait ke-5 baris ke-5
Teknoinfo karo infotekno kuwi ora loro lho

      pada puisi 4 terdapat rima tak sempurna yaitu /gi/ dan /si/ pada bait ke-1 baris ke-2, ke-3, ke-5 dan ke-6. Juga terdapat
pada bait ke-4 baris ke-4 yaitu
Arep apa ana makna ora ana cara
Pada bait ke-5 baris ke-5
Teknoinfo karo infotekno kuwi ora loro lho
Pada puisi 4 juga terdapat rima vertikal yaitu kata cara pada bait ke-2 dan kata lha pada bait ke-3.
2.      Diksi
        Dalam geguritan berjudul Teknologi Informasi, penyair tidak menggunakan kata – kata yang terlalu sulit. Yang unik dalam puisi ini adalah penyair banyak mengulang kata dan ditukar tempatnya.
        Pengulangan dan penukaran tampat menggambarkan masyarakat yang masih bingung.

3.      Parafrase
        Dalam geguritan ini penyair menceritakan mengenai teknologi dan informasi. Masyarakat masih bingung mengenai teknologi informasi dan informasi teknologi. Teknologi informasi atau informasi teknologi.
        Teknologi tidak hanya sekedar cara ataupun hasilnya. Hasil yang seperti apa? Hasilnya tentang informasi. Jadi kedua – duanya pada dasarnya adalah sama. Cara ataupun makna, keduanya mencari makna dan cara untuk saling melengkapi. Pada kenyataannya masyarakat masih belum memahami.bahwa yang sebenarnya teknologi informasi dan informasi teknologi itu sama.   

4.      Kata Asing
Inform = informasi

5.      Pesan / amanat
a.       Jangan berrtindak tanpa berfikir, dan jangan hanya berfikir tanpa bertindak.
b.      Pembaca harus mengerti apa itu teknologi informasi jangan sampai salah pengertian. Jangan sampai kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk hal negatif.
c.       Jangan membedakan antara teknologi informasi dan informasi teknologi, karena pada dasarnya keduanya sama.

E.     Puisi 5
1.      Rima
Pada puisi 5 terdapat aliterasi, konsonan /m/ pada bait ke-2 baris ke-2. Juga konsonan /ng/ pada bait ke-3 baris ke-2.
Pada puisi 5 juga banyak terdapat asonansi yaitu pada
-       Bait ke-1 baris ke-1
Wengi wiwit sepi
-       Bait ke-2 baris ke-3, ke-5, ke-6 dan ke-7
aja kesusu turu
atur puji syukur ing gusti
wus paring sagung kabutuhan
wus paring sagung pitulunga

-       Bait ke-3 baris ke-2 dan ke-3
benjing enjing kula tangi
kula bedhe tetep ngabekti

pada puisi lima terdapat rima tak sempurna yaitu pada bait ke-2 baris ke-2 dan baris ke-3
ayem tentrem anyrambahi
atur puji syukur ing gusti
pada puisi 5 terdapat rima awal dan vertikal yaitu pada bait ke-2 baris ke-6 dan ke-7
wus paring sagung kabutuhan
wus paring sagung pitulungan
2.      Diksi
         Dalam geguritan berjudul Sugeng ndalu, Gusti, pengarang kembali menggunakan kata – kata yang tidak terlalu sulit. Namun, masih ada beberapa kata yang jarang digunakan pada umumnya.

3.      Parafrase
         Dalam geguritan ini penyair menceritakan suasana malam menjelang tidur. Bahwa sebelum tidur kita harus bersyukur kepada Tuhan atas apa yang diberikan pada hari itu. Dan berharap hari esok tidak terjadi hal yang tidak diinginkan
.
4.      Tipografi
        Bait pertama berisi 2 baris saja yang menggambarkan suasana saat itu. Bait isiterdiri dari bait yang banyak dana bait terakhir hanya tiga baris. Bentuk yang unik ini juga membantu pembaca memahami puisi ini.

5.      Pesan / amanat
a.       Bersyukurlah atas apa yang Tuhan berikan.
b.      Manfaatkanlah waktumu untuk selalu bersyukur dan berdo’a.
c.       Berdo’a lah selalu dalam keadaan sedih ataupun senang.
d.      Berdo’a jangan hanya untuk hari ini saja tapi untuk esok hari.



BAB IV
SIMPULAN
Puisi adalah sebuah struktur yang maknanya dapat diperoleh dengan cara menganalisis makna tiap – tiap unsur kaitannya dengan makna unsur lain di dalam puisi itu sendiri
Norma-norma puisi atau unsur-unsur sajak berjalin secara erat atau berkoherensi secara padu. Makna sajak ditentukan koherensi norma-norma atau unsure-unsur sajak. Untuk memahami makna secara keseluruhan sajak dianalisis dengan menggunakan analisis structural. Analisis structural adalah analisis yang melihat bahwa unsure-unsur structural sajak itu saling berhubungan erat, saling menentukan artinya.
Melihat latar belakang Sudi yatmana tidak diragukan lagi hasil karyanya. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan kejujuran dalam menggunakan kata membuat karyanya mudah dipahami pembaca.













Daftar Pustaka

Jabrohim. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graham Widyia.
Kompasiana. 2010. Diksi- Diksi Dalam Puisi. http://bahasa.kompasiana.com /2010 /10/09/diksi-diksi-dalam-puisi/. Diakses pada tanggal 13 bulan Juni tahun 2011.
Organisasi.Org. 2008. Pengertian Makna Denotatif, Konotatif, Lugas, Kias, Leksikal, Gramatikal, Umum dan Khusus. http://organisasi.org/pengertian-makna-denotatif-konotatif-lugas-kias-leksikal-gramatikal-umum-dan-khusus. Diakses pada tanggal 12 Juni  2011.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
UT.2011.Tinjauan Mata Kuliah Bahasa Indonesia. http://pustaka.ut.ac.id/web/ index.php?option=com_content&view=article&id=125:pbin-4213-&catid=37:pbin&Itemid=111. Diakses pada tanggal 12 Juni 2011.
Waluyo, Herman J. 2000. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Wikipedia. 2010. Arkais. http://id.wikipedia.org/wiki/Arkais. Diakses pada tanggal 23 Juni 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar